: :

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Rabu, 16 April 2014

Alloh Maha Skenario

Tahukah engkau yang disana, aku sangat mengagumimu, tahukah engkau wahai wanita, aku tidak hanya terpesona dengan kecantikanmu, tapi juga "meleleh" setiap berpapasan denganmu. Dan tahukah engkau entah kenapa dalam seminggu terakhir setiap mata akan terpejam untuk tidur ada seberkas  bayang wajahmu dianganku.


Mungkin aku sedang mengalami apa yang dinamakan orang "jatuh cinta", yah mungkin saja, aku tidak bisa mendeskripsikan seberapa detail rasanya jatuh cinta, karena memang pertama dan terakhir kalinya aku mencintai seseorang dan mengikuti arus jahiliyah pacaran saat  aku memasuki dunia kampus yang erat dengan lambang roda geriginya, kampus yang melahirkan mendikbud M.Nuh.


Kalau bisa aku katakan, aku akan katakan saat esok tiba, aku akan katakan kalau aku sangat mencintaimu dan terpesona dari semua sisi yang ada pada dirimu. Namun itu adalah ucapan saat aku masih dalam kondisi jahiliyah dulu, dan aku tidak berniat mengulanginya. Aku ingin mengatakan "maukah engkau menjadi istriku di dunia dan di akhirat?", yah kata kata itulah yang ingin aku sampaikan kepadamu nanti, karena memang kata-kata itu lebih pantas aku ucapkan padamu daripada kata-kata gombal aku sangat mencintaimu, gombal, karena kata-kata itu diucapkan oleh laki-laki yang tidak berani menikahi wanita yang dicintainya.


Aku memang sangat ingin mendatangi kediaman orang tuamu dan menemui bapakmu untuk melamarmu, tapi melamar seseorang tidak hanya sekedar keberanian, namun juga kepantasan, pantas secara finansial, pantas secara kedewasaan, pantas secara agama dan pantas secara emosional. secara finansial mungkin bisa dikatakan Aku sudah 80% siap, dan alangkah baiknya jika mencapai 100% yakni ketika target financial freedom tercapai. untuk yang lain seperti emosional masih di level 70%, agama masih di level 85%, dan kedewasaan 90%, alangkah baiknya jika sudah memenuhi 100% untuk semua aspek tadi.

Aku ingin memantaskan aspek-aspek tadi karena setidaknya aku ingin 4 kriteria (harta,wajah,agama,keturunan) jodoh itu ada pada diri ini, saat ini aku hanya bisa mendoakanmu dalam diam, Insya Alloh akan selalu ada namamu selain nama orangtua yang kupanjatkan kepadaNya setiap selesai sholat apapun. Aku akan berdoa kepadaNya semoga ia mempercepat proses pemantasan diriku, dan kalaupun ditengah tengah proses itu ternyata engkau lebih dulu dilamar oleh seseorang, aku sangat ikhlas karena aku yakin Alloh memilihkan jodoh yang lebih baik dari diriku ini, namun aku sangat yakin seyakin-yakinnya jika memang engkau adalah jodohku pasti ada skenario luar biasa dari Alloh untuk memantabkan hati ini bersatu, meskipun saat itu ada orang yang datang melamarmu, pasti ada skenario Alloh yang akan membuatmu tidak menerima lamaran itu. Sekali lagi aku sedang menjemput takdir, aku tidak akan merengek-rengek cintamu dengan selalu menanyakan kabarmu, atau bertanya sudah makan belum atau memuji kecantikanmu meskipun aku sudah lama menyimpan nomer teleponmu, biarlah kata-kata perhatian itu nanti aku ucapkan ketika aku telah melafadzkan ijab qabul karena akan lebih terdengar romantis dan menenangkan


Biarlah aku mencintaimu dalam diam saat ini, biarlah aku hanya bisa mendoakanmu, dan semoga skenarioNya sesuai dengan apa yang aku cita-citakan.

hwheheheh, semoga engkaupun merasakan hal yang sama saat ini, yah syukur-syukur engkau sampai baca tulisan ini, hwheheheheh *kepedean mode on



0   komentar

Cancel Reply